
Oh, simple thing, where have you gone?
I'm getting old and I need something to rely on.
So tell me when you're gonna let me in,
I'm getting tired and I need somewhere to begin.
So if you have a minute why don't we go,
Talk about it somewhere only we know?
This could be the end of everything.
So why don't we go, somewhere only we know,
Somewhere only we know.
Lamat-lamat lagu Keane terdengar disenandungkan olehnya dari arah ruang makan. Hm, syukurlah, perasaannya telah membaik, benakku sambil tersenyum lega pada pantulan wajahku dalam cermin, hendak berdandan. Apapun yang saat ini mengganjal di hatinya, sepertinya belum hendak menunjukkan wujudnya padaku. Tiba saatnya, kuharap nuraniku tidak sedang diburamkan oleh hormon-hormon yang tak mau diatur sehingga aku bisa melumpuhkan apapun dia dengan seulas senyum ikhlasku.
Ada yang bilang, bahwa nurani merupakan nabi di dalam diri. Yang senantiasa menyampaikan kebenaran hakiki. Dialah yang selalu membantah nafsu, emosi, dan pikiran dengan santun tanpa menggurui. Nurani merupakan naluri spiritual yang mampu membedakan baik dan buruk dengan lebih cepat dan lebih jernih dibandingkan akal yang sehat lebih-lebih yang bulus. Terlepas dari pikiran-pikiran yang tak ayal sering diliputi oleh tendensi-tendensi tertentu, manusia umumnya mengenal bisikan nurani, namun enggan menurutinya karena manusia lebih percaya pada sesuatu yang praktis dan logis. Ada juga yang bilang, siapapun yang berbuat mengikuti kata nurani, takkan menyesali perbuatannya. Aha, dan sepertinya untuk mengenali bisikan nurani pun dibutuhkan nurani...
Ketika orang-orang terdekat merasa memiliki hak dalam menentukan jalan kehidupanku, mencekoki pikiranku dengan politik praktis mereka, aku bersikeras tak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang menyesal. Boleh jadi pasrahku pada nurani benar-benar hanyalah sifat kepala batuku, seperti yang mereka bilang. Tapi biarlah, batu berbenturan dengan batu bukannya tidak menghasilkan apa-apa, bukan? Mereka menghasilkan percikan api yang pada akhirnya mampu menerangi kegelapan.
Setahun yang lalu nuraniku memilihmu. Segala perbedaan semakin membentangkan jarak fisik yang nyata. Ingin rasanya kupangkas jarak itu dengan cara berpikir kita yang terlalu mirip untuk diabaikan. Tetapi apa dayaku, seorang gadis timur yang dibesarkan dengan aturan-aturan dan norma-norma, yang rata-rata tega menyiangi bunga-bunga liar yang tumbuh dengan usahanya sendiri. Menurut mereka aku hanyalah gadis keras kepala yang selalu memilih kata 'tidak' sebagai jawaban pertama atas apapun permintaan mereka .
Tapi tahukah mereka akan aku yang sebenarnya?
Inginku menjadi sebuah bibit bunga dandelion, putih dan ringan, kelak diberangkatkan oleh angin semilir yang membuaiku dengan kasih menuju hempasan badai disertai bongkahan-bongkahan angkuh tetesan hujan, yang kemudian menceburkanku dalam selokan hitam bau tinja, hingga akhirnya kuberlabuh pada tepian trotoar yang memiliki cukup saja unsur hara untukku melanjutkan hidup, mekar kuning dan bergas di bawah mentari. Adapun trotoar itu ternyata diokupasi oleh sekelompok pedagang kaki lima pada malam harinya, aku kan tetap bersyukur atas segala yang Diberikan padaku.
Jadi, sayangku, sebagaimana setahun yang lalu, aku kini sudah menjelma kembali menjadi puluhan pappus-pappus kecil. Siap lepas landas dengan hembusan kasih sayang dan keyakinanmu akan diriku.
