27.10.08

a Bruce Lee quote: Don't think. FEEL!


Oh, simple thing, where have you gone?
I'm getting old and I need something to rely on.
So tell me when you're gonna let me in,
I'm getting tired and I need somewhere to begin.
So if you have a minute why don't we go,
Talk about it somewhere only we know?
This could be the end of everything.
So why don't we go, somewhere only we know,
Somewhere only we know.

Lamat-lamat lagu Keane terdengar disenandungkan olehnya dari arah ruang makan. Hm, syukurlah, perasaannya telah membaik, benakku sambil tersenyum lega pada pantulan wajahku dalam cermin, hendak berdandan. Apapun yang saat ini mengganjal di hatinya, sepertinya belum hendak menunjukkan wujudnya padaku. Tiba saatnya, kuharap nuraniku tidak sedang diburamkan oleh hormon-hormon yang tak mau diatur sehingga aku bisa melumpuhkan apapun dia dengan seulas senyum ikhlasku.

Ada yang bilang, bahwa nurani merupakan nabi di dalam diri. Yang senantiasa menyampaikan kebenaran hakiki. Dialah yang selalu membantah nafsu, emosi, dan pikiran dengan santun tanpa menggurui. Nurani merupakan naluri spiritual yang mampu membedakan baik dan buruk dengan lebih cepat dan lebih jernih dibandingkan akal yang sehat lebih-lebih yang bulus. Terlepas dari pikiran-pikiran yang tak ayal sering diliputi oleh tendensi-tendensi tertentu, manusia umumnya mengenal bisikan nurani, namun enggan menurutinya karena manusia lebih percaya pada sesuatu yang praktis dan logis. Ada juga yang bilang, siapapun yang berbuat mengikuti kata nurani, takkan menyesali perbuatannya. Aha, dan sepertinya untuk mengenali bisikan nurani pun dibutuhkan nurani...

Ketika orang-orang terdekat merasa memiliki hak dalam menentukan jalan kehidupanku, mencekoki pikiranku dengan politik praktis mereka, aku bersikeras tak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang menyesal. Boleh jadi pasrahku pada nurani benar-benar hanyalah sifat kepala batuku, seperti yang mereka bilang. Tapi biarlah, batu berbenturan dengan batu bukannya tidak menghasilkan apa-apa, bukan? Mereka menghasilkan percikan api yang pada akhirnya mampu menerangi kegelapan.

Setahun yang lalu nuraniku memilihmu. Segala perbedaan semakin membentangkan jarak fisik yang nyata. Ingin rasanya kupangkas jarak itu dengan cara berpikir kita yang terlalu mirip untuk diabaikan. Tetapi apa dayaku, seorang gadis timur yang dibesarkan dengan aturan-aturan dan norma-norma, yang rata-rata tega menyiangi bunga-bunga liar yang tumbuh dengan usahanya sendiri. Menurut mereka aku hanyalah gadis keras kepala yang selalu memilih kata 'tidak' sebagai jawaban pertama atas apapun permintaan mereka .

Tapi tahukah mereka akan aku yang sebenarnya?

Inginku menjadi sebuah bibit bunga dandelion, putih dan ringan, kelak diberangkatkan oleh angin semilir yang membuaiku dengan kasih menuju hempasan badai disertai bongkahan-bongkahan angkuh tetesan hujan, yang kemudian menceburkanku dalam selokan hitam bau tinja, hingga akhirnya kuberlabuh pada tepian trotoar yang memiliki cukup saja unsur hara untukku melanjutkan hidup, mekar kuning dan bergas di bawah mentari. Adapun trotoar itu ternyata diokupasi oleh sekelompok pedagang kaki lima pada malam harinya, aku kan tetap bersyukur atas segala yang Diberikan padaku.

Jadi, sayangku, sebagaimana setahun yang lalu, aku kini sudah menjelma kembali menjadi puluhan pappus-pappus kecil. Siap lepas landas dengan hembusan kasih sayang dan keyakinanmu akan diriku.








22.10.08

Masih Saja Otakku Tak Mau Berhenti. oleh Dony Kurniawan


Tiba-tiba saja ingin kubenamkan wajahku ke riak rambutnya. Masih ada yang salah dengan otakku yang tak bisa kuasa berhenti berputar-putar ini. Kecupanmu menusukku dalam-dalam seolah engkau tahu gelisahku dan berteriak menantangnya.

Wahai rahasia hatiku, bicaralah, agar aku dapat mendamaikannya..!!!

Lama aku mengacuhkan teriakan itu, dari seseorang yang selama ini hanya padaku bersandar, minimal itu pengakuannya....

Terlalu lama hatiku membatu, menyerah kepada kenyataan bahwa cinta ternyata berseberangan dengan akal sehat, cinta menyesatkan, yang melemparkanku ke dunia lain yang gelap, semakin sepi. Memandangmu, memaksaku untuk percaya bahwa cinta masih bermakna, dan aku takut...

Berkali-kali aku merasa menemukan serpihan diriku di dalam dirinya. Saat sinar pagi hari yang lembut menyejukkan kamar kami, entah apa yang merasuki hatiku tapi rasanya seperti melihat ketenangan dari matanya yang masih berair. Pagi itu, aku seperti mengenalnya sejak dulu.

Perlahan tanganku menggengam jemarinya, rasanya bukan melambung tetapi menenangkan. Hatiku tidak terbang mengawang tetapi tetap di tanah namun melihat tinggi ke awan. Ia menawarkan cinta yang jujur. Tapi mengapa hatiku ini tetap tak mau menyerah. Ketidakpercayaan terus menggerogoti.

Terasa menjadi pendosa karena memalingkan wajah dari cinta. Begitu egois sehingga diterlantarkan. Sendiri, aku takut, aku tak mau. Betapa inginnya hati ini menyerahkan intannya tetapi bagian diriku tidak mengijinkannya. Apakah ini jeritan nuraniku yang tak lagi kudengar ?

Kurangkuh dia didekapku. Ingin kuhibur saat penatnya datang. Kutatap wajahnya. Kunikmati tiap relung pikirnya. Kunikmati keluasaan kalbunya. Saat ia tersadar, kutatap matanya lekat. Tanpa tahu apa yang sedang aku pikirkan. Ia akan tersenyum. Tersenyum, hanya itu yang kucari dalam dirinya. Agar ia bahagia dan tersenyum.

Sekali lagi seperti pagi-pagi yang lain, aku meyakinkan diriku, bahwa ketika cinta menuntut haknya, ketika aku selalu akan merindukanmu karena engkau selalu datang sebagai sahabatku dan membuatku yakin bahwa hari ini akan seindah hari-hari sebelumnya.

Segera aku bangun dari malasku pagi ini, merengkuhnya agar beranjak dari ranjang, dan bergegas meneruskan hidup.

Hidupku bersamamu akan panjang dan menyenangkan.

16.10.08

The Kiss...

Kau kemudian membenamkan wajahmu dalam riap gelombang rambut panjangku. Meresapi bau khas keringatku yang katamu serupa kue kelapa. Membawamu kembali ke masa kecilmu dan almarhumah nenek yang selalu menyimpannya sebagai cemilan penghibur setiap kamu dimarahi oleh ibu.

Aku tak tahu siapa yang beruntung di sini. Akukah? Lantaran memiliki bau yang menjadi salah satu daya pikatku untuk mengikatmu di luar rasionalitas berpikir melainkan karena dipicu oleh sensor penciuman dan kenangan manis di masa kanak-kanak? Atau kamu? Disebabkan jarang sekali seseorang bisa seberuntung kamu memperoleh kembali aroma masa lalunya pada sosok yang berarti baginya.

Biasanya bau-bauan dari masa lampau hanya akan melintas di depan hidung kita sesekali tanpa terencana dan menghilang begitu saja tanpa permisi. Bau cologne mantan pacar ketika SMA misalnya, yang tak sengaja tercium pada seorang ibu yang berpapasan denganmu di mal. Hanya pada saat itu saja kejadiannya. Tidak mungkin kamu lalu mengejar ibu itu dan menghirupi bau beliau sepuas-puasnya hanya karena kangen sama si mantan pacar. Pendek kata, aku bersyukur tumbuh dengan bau khas yang bisa membawamu kembali ke momen-momen emas kasih sayang nenek yang telah lama tiada.

Dan bau yang kini kucium dari ubun-ubunmu kini adalah bau yang dulu kubenci. Akan tetapi karena bau tersebut ada padamu, suamiku, tak ada pilihan lain untuk menerimanya sebagai bagian dari satu kesatuan paket dirimu.

Pasti kau baru saja menghabiskan sebatang rokok di tepian jendela kamar, duduk bersandar pada kusen jendela dan berpikir. Entah apa yang kamu pikirkan. Sudah beberapa hari ini aku terbangun dan menatap punggungmu yang seolah sedang menanggung beban berat di hadapan koleksi anggrek titipan Mama sembari menyaksikan cahaya putih fajar yang membelah birunya malam.

Kamu memang tidak biasa membagi beban pikiranmu pada siapapun dengan sengaja. Selama ini, kau simpan sendiri seluruh masalahmu. Sedangkan satu-satunya caraku membantumu hanya dengan merangkulmu, memberimu rasa nyaman agar tercipta suasana kondusif bagi hati dan pikiranmu untuk mencari sendiri jalan keluarnya. Hal ini jauh lebih baik daripada memaksa orang lain untuk bercerita mengenai masalahnya sedangkan kita sendiri tidak yakin dapat memberi solusi yang tepat sesuai dengan kebutuhan orang tersebut. Buang-buang waktu dan perasaan saja.

Seperti saat ini di dalam dekapanmu. Kutahu kau sedang gundah memikirkan sesuatu. Tidak kutunjukkan kekhawatiranku, malahan kukecupi ubun-ubunmu, turun ke kedua kelopak matamu, hidungmu, pipi kiri dan kanan, dan akhirnya pada bibirmu dimana seluruh puisi cinta di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan sepasang bibir yang terpagut dalam ritme pelan saling mengisi, menjelajahi, memberi dan menerima. Ciuman yang kuharap menyampaikan pesan: "Jernihlah dalam berpikir, mas. Aku ada di sini."

15.10.08

ROL by Dony Kurniawan

Ray Of Light, hanya bisa tertangkap kamera jika ada lumens yang lebih kuat intensitasnya dibanding dengan cahaya sekitar dan partikel-partikel lembut yang bertebaran disekitarnya akan menguatkannya.

Kamar ini diterangi bilah-bilah sinar itu, aku terlalu malas untuk sekedar mengambil kamera dan mengabadikannya, otakku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga membuatnya melambat, berkurang kapasitasnya.

Hampir semua orang pernah merasakan betapa cinta memiliki sisi gelap yang bernama ”Obsesi”. Jika asmara yang semula merupakan ketukan lembut di pintu hati seseorang yang kita sayangi, kadang tanpa sadar ketukan itu sudah berubah menjadi gedoran yang tidak sopan. Menyimpan obsesi pada seseorang disuatu waktu adalah kesalahan yang sulit dihindari.

Ada beberapa potensi kerugian yang amat mungkin terjadi dari hal ini. Pertama, itu jelas melanggar aturan paling pokok dalam mendekati lawan jenis ”Jangan melakukan pendekatan ketika sudah mulai kehilangan penilaian objektif atas sasaran”. Kedua, potensinya amat besar dalam meluluhkan mood dan merupakan cara yang tepat untuk menguras energi, perasaan, dan otak.

Ah teori...

Mengenalnya, jelas bukan kesalahan. Terobsesi padanya mungkin satu-satunya hal yang paling objektif dariku, memilikinya adalah adalah anugerah. Berkali-kali kuyakinkan hal itu dan kutanamkan dalam-dalam di benak sampai berkarat. Jika pagi ini aku termangu didekat jendela kamar dan terus-menurus mencari pembenaran..? mungkin hanya otakku yang perlu ditertibkan, diajari untuk stop berpikir dan beriterasi !!

Hari masih terlalu pagi...dan segera kujauhi jendela untuk kembali berbaring diranjang, didekatnya, mendengarkan nafasnya teratur, ritmis. Ternyat masih menjadi cara paling efektif untuk menghentikan otakku yang berputar-putar ketika ada didekatnya, mencium bau badannya, kuresapi saat itu seolah waktu terhenti, dan bumi tak berevolusi.

Kemudian kurasakan hembusan nafas halus dimukaku, tangan yang berlahan mengacak rambutku, menyibaknya dari dahi, kuputuskan tetap terpejam. Aku takut merusak moment itu dan membuatnya malu memandangku. Kubayangkan dia tersenyum dan berhati-hati mengerakkan tangannya, menyalurkan energi cinta ketubuhku serupa Endorphin, sebuah hormon mirip morphin yang secara alami dihasilkan oleh tubuh sehingga membuatku ketagihan.

Betapa dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa aku adalah kebenaran buatnya meski itu menentang banyak prinsip dari hidupnya. Betapa dia juga mencari pembenaran-pembenaran atas banyak kelemahan dan kekuranganku. Menggunakan kekuatannya untuk mendukungku, memberikanku harapan. Ya, mungkin aku bukan hal yang ideal buatnya, tetapi pada suatu waktu hatinya memutuskan untuk membuang mimpinya dan merengkuh tanganku, dan atas nama kasih sayang, cinta dan gairah untuk memiliki, tiba saat itu, pada sebuah kesempatan yang lebih realitis berkata ”aku ingin serius dan berpikir untuk menikahimu, jika engkau menginginkannya”.

Jemarinya masih mengacak rambutku, ketika kurengkuh dia mendekat. Senyuman sepagi ini dan tawa kecilnya membuatku segera tersadar, adalah cinta yang akan menuntunku hari ini, tanpa tatapan kosong dan hati membatu. Sekedar hembusan nafasmu sedekat ini yang membimbing sisa waktuku nanti. Saat ini aku merasa menemukan serpihan diriku di dalam dirinya. Saat bilah-bilah sinar mentari pagi turun dan menerangi kamar kami, entah apa yang merasuki hatiku tapi rasanya seperti melihat ketenangan dari matanya seakan aku mampu menggapai dirinya dalam kalbuku, seakan aku tahu apa yang ada di dalam pikirannya.

Ray Of Light, hanya bisa tertangkap kamera jika ada lumens yang lebih kuat intensitasnya dibanding dengan cahaya sekitar dan partikel-partikel lembut yang bertebaran disekitarnya akan menguatkannya, Sayang, engkau Ray of Light-ku sepanjang hari.

14.10.08

Sebuah fiksi or khayalan maybe...yang penting kan ngga berbuat dosa.

Bilah-bilah mentari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai kamar kami. Aku membalik tubuh sehingga wajah kita berhadap-hadapan. Dari jarak sedekat ini dan karena lelap tidurmu, dengan leluasa kuamati wajahmu, tanpa harus saling jengah ataupun tersipu.

Ada yang bilang, tiap-tiap manusia memiliki indera ekstra untuk merasa jika dirinya sedang diamati oleh manusia lain. Mungkin memang iya, semacam naluri hewani untuk proteksi diri. Indera-indera yang belum lulus uji kelayakan karena berkaitan dengan 'alam ghoib' yang sulit dibuktikan secara ilmiah.

Coba saja kamu amati wajah seseorang yang tak kamu kenali di halte dari jarak beberapa meter. Jeda beberapa detik, orang tersebut pasti akan merasa dirinya diawasi dan menoleh ke arahmu, pandangan kalian beradu dan dalam pecahan detik tatapanmu akan beralih ke tempat lain. Malu. Tapi, kenapa harus malu ya?

Dan kini aku menikmati kecuranganku. Menatap wajah yang pasrah dengan rambut awut-awutan yang biasanya rapih dibelah pinggir. Lengan kirimu masih belum berpindah dari pinggang ini sejak malam tadi ketika kami berdiskusi sambil terkantuk-kantuk. Sedang lenganmu yang satunya tersembunyi di bawah bantal kepalamu. Kuperhatikan bibirmu yang kehitam-hitaman akibat asap rokok yang setiap hari kamu hisap namun menghidupi kita dari hari ke hari. Menghidupi kita, tetapi membunuhmu pelan-pelan, sayang.

Betapa dulu kuberharap memiliki pasangan hidup yang anti-rokok, eh malah nemu yang kerja sebagai karyawan sebuah perusahaan rokok. Meruntuhkan sebuah idealisme tapi justru mengukuhkan idealisme lain, yaitu mampu menerima orang lain seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangan. Tentunya dengan sebelumnya sadar dan menerima diri kita sendiri sebagai makhluk yang tidak sempurna, kemudian belajar mencintai diri itu sebelum selanjutnya membagi cinta yang dimilikinya kepada diri yang lain. Ah, teori...

Tak tahan, akhirnya kuangkat lengan kananku yang bebas, dan kupinggirkan rambut yang menutupi dahimu. Tahukah kamu bahwa saya sedang menginjeksi morphin alami kedalam tubuhmu dan pikiranmu, membuatmu semakin mencandu kasih sayangku yang takkan habis stoknya sampai kapanpun, itu juga selama kamu masih menginginkannya...

Endorphin, sebuah hormon mirip morphin yang secara alami dihasilkan oleh tubuh. Biasanya dilepaskan di tengah kegiatan olahraga yang intens seperti jogging, sehingga memicu "runners high", bisa juga dilepaskan oleh tubuh setiap merasakan belaian sayang di kepala atau dahi. Orang tua biasa melakukan hal ini terhadap anak lantaran sayang dan secara tidak sadar menyebabkan ketergantungan anak terhadap kasih sayang mereka. Dan kasih sayang seperti ini adalah nutrisi terbaik pertumbuhan otak dan mental anak. Jauh lebih baik dari AHA dan DHA atau apalah yang ditawarkan oleh pabrik susu formula. Entah mendapat ilham dari mana, Rasul kita yang bukanlah seorang dokter spesialis neurologi, menganjurkan agar kita rajin membelai kepala anak yatim-piatu... Subhanallah!

Setelah beberapa menit menikmati lembutnya rambutmu disela-sela jariku, lengan kirimu yang sedari tadi tidak berubah tempat, menarik tubuhku merapat. Aku terkikik geli menyadari betapa ampuhnya membangunkan seseorang dengan kasih sayang. Tanpa perlu marah-marah dan merusak mood orang di pagi hari. Kamu kemudian-

-to be continued by request-


2.7.08

buttons

I just don't feel like writing much today. The day started off quite well. I woke up around 4 am. Charged my ipod, prayed and recited the Qur'an a bit. It's been quite a while I haven't held the Qur'an in my lap, kiss and press it dearly to my chest. As if I'd like all it's contents to light my path, my heart, my words, my actions. I just needed the pseudo effect it gives out. Call me over-religious, new-age geek...whatever... that's what we benefit from faith... A secure piece of mind... A clean slate for a day, a positive mental attitude to get me through each day...
My parents told me that the angels pray all day long for those who pray with all their heart in the early mornings. My dad says, by reciting the Quran we don't only please our soul, but also the blood running in our veins... each cell yearns to be a part of God's praise...
My writing today is somewhat of a blurt out, I guess... no concept... just the truth. just me. Someone told me to write honestly, so this is it. Me being honest.
I have to go now... To the gym. Pray first. I've gained like some 10 kilos since last year... 10 kilos of self-righteousness I guess... I realized that about myself lately... My feeling superior to people around me, while the fact is the contrary actually... You could call that, my craziness... my insanity... lol...

Okay... really gotta go now.
I'm satisfied with what I wrote up there... now, hopefully later I won't end up deleting it and become a hypocrite.

Toodles!

17.6.08

Mom, this one's for you...♥


My mother, she is not a university graduate. She can't speak English as good as all her children. She doesn't have a job, let alone a career. She's just your typical housewife. Tending to her family's needs from dawn till dusk. Everyday. On and on.


My mother grows beautiful orchids in her gardens. She makes sure they're waterred in the mornings and afternoons. She knows when the shoots have roots and need to be put in their individual habitats.


She is the God of our kitchen. We'd rather eat in than out. Since mom's cooking is always the best and the safest to consume. No doubt. All is prepared with sincerity and love.


Her hands are soft. Even though she hand-washes some of our valuable laundry. Yesterday, I just stood and watched in amazement how she peeled some huge cassava roots. She can change cables and repair simple home appliances. She knows what to do when doors locks are jammed. When the toilet's water supply is not working properly. For her, there is nothing she can't do as long as we put our heart and mind to it. My dad? Oh, he'd just ask us to call the handyman. =)


You might think my mom is a hefty woman. With arms like Shiva. Wrong... She is in her mid 50s. A petite Indonesian woman. Fair skinned and quite frail. Half her hair is white. She can have mean headaches and if she gets too tired, she gets sick and usually throws up. We, quickly make her a cup of hot sweet tea when that happens and start massaging her aching head.


In her mid 20's, she brought her 3 children (ages 5, 3 and 1.5) halfway around the globe just so the whole family could live together with dad who was studying in the States. All because her late father, a civil servant in West Sumatra, had 4 wives and she didn't want her children to miss out on their dad's affection, like she herself had.


♥She loves to lie in the VIP spot in front of our TV, watching shows with her children cuddled up near her, though she often dozes off before the show is over =).


♥She loves chatting with her husband in their bed in afternoons waiting for dusk prayer calls or late nights before they fall asleep (i know coz my room is the nearest to theirs).


♥She loves updating her children's love lifes, careers, friendships, experiences. She never thinks of herself, which makes me mad sometimes.


I'm grateful to still have her love♥. And there's nothing a child can do to return such ♥love in equal proportion. It's not fair, huh? But you get to be unfair with your own kids, in turn by loving them unconditionally. There's this saying in Indonesian (where I'm from :))Cinta anak sepanjang galah, cinta orangtua sepanjang jalan.which means: a child's love is just a yard long compared to a parent's love which is as long as the walk of life they go through...